Bacaan Niat Puasa Sunnah Nisfu Sya'ban Dan Berapa Hari

Niat Puasa Nisfu Sya'ban - Saat memasuki bulan sya'ban, umat muslim di perintahkan untuk lebih memperbanyak amalan-amalan sunnah seperti salah satunya adalah puasa. Dalam kalender hijriyah, sya'ban termasuk bulen ke delapan yang di himpit dengan dua bulan mulia yaitu rajab dan ramadhan, sehingga sering di lupakan oleh kebanyakannya.

Puasa sunnah di bulan sya'ban, selain hukumnya sunnah juga bisa menjadi salah satu latihan atau pemanasan untuk bersiap-siap memasuki bulan ramadhan. Apabila terbiasa sebelumnya berpuasa, ketika harus menjalankan puasa wajib sebulan penuh, akan terasa lebih ringan, dan bisa lebih mantap menjalani ramadhan.

Tidak ada perselisihan pendapat tentang kedudukan dalil puasa sunnah di bulan sya'ban, karena secara gamblang telah di sebutkan dalam banyak hadits bahwa hukumnya adalah sunnah. Adapun perbedaan yaitu tentang berapa hari puasa sya'ban dilaksanakan, karena kebanyakan dalil hanya menyebutkan sebanyak-banyaknya.

Bacaan Niat Puasa Sunnah Nisfu Sya'ban Dan Berapa Hari

Dalam islam, apapun amal baik yang akan di lakukan harus di awali dengan niat, apalagi jika berhubungan dengan ibadah seperti sholat dan puasa, maka kedudukan menjadi salah satu syarat sah yang tidak boleh di tinggalkan. Untuk puasa wajib niat harus di bacakan malam hari sebelum masuk waktu di mulainya berpuasa.

Akan tetapi bagi puasa sunnah, boleh niat bisa di bacakan di siang hari apabila lupa membaca niat dimalam harinya, dengan syarat selama belum melakukan hal-hal yang membatalkan puasa. Jika kalian tidak menyadari bahwa hari ini masuk bulan sya'ban, dan pagi harinya ingat serta ingin berpuasa, dengan syarat yang di sebutlan tadi.

Niat Puasa Bulan Sya'ban

نَوَيْتُ صَوْمَ غَدٍ عَنْ أَدَاءِ سُنَّةِ شَعْبَانَ لِلهِ تَعَالَى

Nawaitu shauma ghadin ‘an adâ’i sunnati Sya‘bana lillâhi ta‘âlâ.

Artinya, “Aku berniat puasa sunah Sya‘ban esok hari karena Allah SWT.”

Jika Siang Hari Maka Bacaan Niatnya Yaitu

نَوَيْتُ صَوْمَ هَذَا اليَوْمِ عَنْ أَدَاءِ سُنَّةِ شَعْبَانَ لِلهِ تَعَالَى

Nawaitu shauma hâdzal yaumi ‘an adâ’i sunnati Sya‘bana lillâhi ta‘âlâ.

Artinya, “Aku berniat puasa sunah Sya‘ban hari ini karena Allah SWT.”

Dalil Puasa Bulan Sya'ban

Di katakan dalam banyak hadits bahwa ketika Nabi saw memasuki bulan rajab beliu berpuasa lebih banyak di banding dengan bulan lainnya, bahkan beliau juga terkadang berpuasa sebulan penuh. Hal ini menunjukan bahwa puasa di bulan sya'ban di lakukan lebih sering oleh nabi saw, beberapa hadits menyebutkan, bunyinya.

عَنْ عَائِشَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهَا قَالَتْ كَانَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَصُومُ حَتَّى نَقُولَ لَا يُفْطِرُ وَيُفْطِرُ حَتَّى نَقُولَ لَا يَصُومُ فَمَا رَأَيْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ اسْتَكْمَلَ صِيَامَ شَهْرٍ إِلَّا رَمَضَانَ وَمَا رَأَيْتُهُ أَكْثَرَ صِيَامًا مِنْهُ فِي شَعْبَانَ

Dari Aisyah r.a. ia menuturkan, “Rasulullah s.a.w. biasa mengerjakan puasa, sehingga kami berpendapat bahwa beliau tidak pernah tidak berpuasa, dan beliau biasa tidak berpuasa, sehingga kami berpendapat bahwa beliau tidak pernah berpuasa. Akan tetapi aku tidak pernah melihat Rasulullah s.a.w. berpuasa sebulan penuh, kecuali pada bulan Ramadhan, dan aku tidak pernah melihat beliau lebih banyak berpuasa daripada puasa di bulan Sya’ban”. (HR. Bukhari, 1833, Muslim 1956).

عن عائشة رضي الله عنها قالت: لَمْ يَكُنِ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَصُومُ شَهْرًا أَكْثَرَ مِنْ شَعْبَانَ، فَإِنَّهُ كَانَ يَصُومُ شَعْبَانَ كُلَّهُ

“Belum pernah Nabi s.a.w. berpuasa satu bulan yang lebih banyak dari pada puasa bulan Syaban. Terkadang beliau berpuasa Sya’ban sebulan penuh.” (HR. Bukhari Muslim).

مَا رَأَيْتُ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَصُومُ شَهْرَيْنِ مُتَتَابِعَيْنِ إِلَّا شَعْبَانَ وَرَمَضَانَ

“Saya belum pernah melihat Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam berpuasa dua bulan berturut-turut selain di bulan Sya’ban dan Ramadhan.” (HR. An Nasa’i, 1078, Abu Daud, 2056, At Turmudzi, 2176).

عَنِ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، أَنَّهُ لَمْ يَكُنْ يَصُومُ مِنَ السَّنَةِ شَهْرًا تَامًّا إِلَّا شَعْبَانَ، وَيَصِلُ بِهِ رَمَضَانَ

“Bahwa Nabi s.a.w. belum pernah puasa satu bulan penuh selain Sya’ban, kemudian beliau sambung dengan Ramadhan.” (H.R. An Nasa’i, 1273).

Berapa Hari Puasa Sya'ban

Dari hadits-hadits di atas, maka untuk ketentuan jumlah pelaksanaan puasa sya'ban dapat di ambil kesimpulan.

1. Puasa Sya'ban sangat baik di kerjakan sebanyak mungkin, taoi tidak sebulan penuh, boleh 1, 2, 3 atau bahkan sampai nisfu sya'ban atau lebih dari itu, asal tidak sebulan.

2. Puasa Sya'ban di kerjakan sebulan penuh dan di sambung dengan ramadhan.

3. Bagi orang yang tidak terbiasa rutin melakukan puasa sunnah sebulan penuh di bulan sya'ban, maka hindari puasa-puasa sunnah 1 atau 2 hari sebelum ramadhan, sebagaimana dijelaskan dalam hadits yang bunyinya yaitu.

لَا تَقَدَّمُوا رَمَضَانَ بِصَوْمِ يَوْمٍ وَلَا يَوْمَيْنِ إِلَّا رَجُلٌ كَانَ يَصُومُ صَوْمًا فَلْيَصُمْهُ

“Jangan kamu dahului Ramadhan dengan puasa sehari atau dua hari, kecuali bagi seseorang yang mempuasakan puasa tertentu, maka ia boleh meneruskan puasanya”. (Hadis Shahih, riwayat Bukhari: 1781 dan Muslim: 1812. teks hadis riwayat al-Bukhari).

Dengan bukti banyaknya dalil hadits yang menjelaskan tentang puasa bulan sya'ban, maka jelas hukunya adalah sunnah, serta jika melihat Nabi Saw melakukannya lebih banyak di banding bulan lain, membuktikan bahwa puasa bulan sya'ban memiliki keutamaan yang lebih juga.

Sampai disini, insyaallah pembahasan tentang bacaan niat puasa nisfu sya'ban beserta artinya dan juga berapa hari, dilaksanakan serta hukumnya dapat di pahami dengan baik. Itulah yang bisa disampaikan saat ini semoga bermanfaat, dan mari sama-sama sambut bulan sya'ban dengan cara berpuasa sebanyak-banyaknya.